Berita  

Dampak Cuaca Ekstrem, Harga Cabe Rawit di Pangandaran Tembus Rp 100 Ribu Per Kilogram

filter: 0; fileterIntensity: 0.0; filterMask: 0; brp_mask:0;?brp_del_th:null;?brp_del_sen:null;?delta:null;?module: photo;hw-remosaic: false;touch: (-1.0, -1.0);sceneMode: 8;cct_value: 0;AI_Scene: (-1, -1);aec_lux: 0.0;aec_lux_index: 0;albedo: ;confidence: ;motionLevel: -1;weatherinfo: null;temperature: 35;

Berita Pangandaran (Isikata) – Harga cabe rawit di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, meroket tajam hingga menyentuh angka Rp 100 ribu per kilogram. Lonjakan harga ini diduga kuat merupakan dampak dari cuaca ekstrem yang memicu kegagalan panen di kalangan petani, khususnya di Kecamatan Langkaplancar.

Menurut Hendri Irawan, salah seorang petani setempat, kenaikan harga ini terjadi karena pasokan barang ke pasar berkurang drastis, sementara permintaan masyarakat tetap tinggi.

Kondisi musim penghujan saat ini sangat memengaruhi produktivitas lahan pertanian. Jika dalam kondisi normal petani bisa memanen 70 hingga 80 kilogram cabe, saat ini mereka hanya mampu menghasilkan sekitar 50 kilogram saja.

Meskipun hasil panen menurun, Hendri mengaku harga yang tinggi ini menjadi berkah tersendiri bagi para petani karena pendapatan mereka tetap terselamatkan. Namun, kondisi ini berbanding terbalik dengan beban yang harus masyarakat tanggung.

Baca juga  Usaha Sampingan Seorang Perangkat Desa Untung Hingga Puluhan Juta Perbulan

“Jika di tingkat petani saja sudah Rp 100 ribu per kilogram, maka di tingkat konsumen harganya bisa mencapai Rp 120 ribu sampai Rp 130 ribu per kilogram,” ujar Hendri.

Kenaikan harga cabe rawit di Pangandaran ini diprediksi tidak akan berhenti dalam waktu dekat. Selain faktor cuaca ekstrem, momentum menjelang bulan Ramadhan dan Lebaran biasanya selalu dibarengi dengan kenaikan harga berbagai komoditas pokok.

Eli, salah seorang pembeli di pasar tradisional Langkaplancar, mengungkapkan bahwa ia sudah terbiasa dengan fenomena tahunan ini. Menurutnya, kenaikan harga menjelang bulan suci Ramadhan adalah hal yang lumrah terjadi pada berbagai jenis bahan pangan.

Sebagai strategi menghadapi mahalnya harga bumbu dapur tersebut, Eli memilih untuk mengurangi porsi penggunaan cabe dalam masakannya.

Baca juga  Pengguna Jalan Keluhkan Retakan di Jalan Raya Cibatu-Gunung Kelir Pangandaran

“Tinggal kitanya saja yang harus bisa menyesuaikan. Diperirit saja memakainya. Jika biasanya sekali masak satu ons, ya kurangi jadi setengah ons saja,” katanya.***