Berita Pangandaran, (Isikata.com) — Memperingati Hari Fisioterapi Sedunia yang jatuh pada 8 September, tim Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) berkolaborasi dengan tim Fisioterapi RSUD Pandega Pangandaran menggelar kegiatan edukasi kesehatan bertajuk “Ngobatan” (Ngobrol Bareng Seputar Kesehatan). Acara yang berlangsung di lantai 4 RSUD Pandega Pangandaran ini berfokus pada penanganan osteoarthritis atau radang sendi lutut.
Fisioterapis RSUD Pandega Pangandaran, Mechita, menjelaskan bahwa osteoarthritis lutut merupakan penyakit sendi degeneratif kronis. Kondisi ini ditandai dengan pengikisan tulang rawan sendi, penebalan tulang subkondral, serta pembentukan osteofit (tulang baru yang menonjol).
”Bantalan sendi di lutut makin lama makin menipis dan aus. Akibatnya, tulang di bawahnya menebal karena menopang berat badan, hingga timbul tonjolan tulang baru yang memicu rasa nyeri,” ujar Mechita di hadapan para pasien dan pengunjung rumah sakit.
Faktor Risiko dan Tingkat Keparahan Osteoarthritis
Mechita memaparkan sejumlah faktor risiko yang memicu terjadinya radang sendi lutut. Selain faktor usia di atas 50 tahun, kaum perempuan memiliki risiko lebih tinggi akibat struktur anatomi panggul dan lutut. Faktor lain yang dapat dimodifikasi antara lain obesitas, riwayat cedera lutut, aktivitas fisik berlebih, hingga kurangnya pergerakan otot.
Tingkat keparahan osteoarthritis lutut dibagi menjadi empat tingkatan (grade):
- Grade 1 (Ringan): Kerusakan minor pada sendi, gejala nyeri belum terlalu terasa.
- Grade 2 (Sedang): Mulai tumbuh taji tulang (bone spur), nyeri timbul saat beraktivitas.
- Grade 3 (Lanjut): Penyempitan celah sendi dan penipisan bantalan makin jelas, sendi kaku dan berbunyi saat digerakkan.
- Grade 4 (Berat): Celah sendi mengikis drastis, menyebabkan nyeri hebat yang tak tertahankan dan kekakuan sendi yang parah.
Pentingnya Fisioterapi dan Latihan Mandiri di Rumah
Fisioterapi memegang peranan kunci dalam mengendalikan gejala radang sendi lutut. Selain meredakan nyeri, fisioterapi bertujuan mempertahankan kelenturan sendi, memperkuat otot penopang, serta menjaga keseimbangan tubuh.
Menurut Mechita, penanganan fisioterapi tidak hanya dilakukan di rumah sakit, tetapi juga harus dilanjutkan melalui latihan mandiri di rumah (Home Program). Program latihan disesuaikan dengan derajat keparahan dan kondisi fisik masing-masing pasien:
- Grade 1: Fokus pada latihan luas gerak sendi (10–15 kali pengulangan) dan penguatan otot paha (isotonik) sebanyak dua kali sehari (pagi dan sore).
- Grade 2: Penambahan latihan kekuatan beban menggunakan sandbag (atau kantong gula 0,5 kg) serta latihan isometrik menggunakan ganjalan handuk di bawah lutut atau tumit.
- Grade 3: Penguatan otot paha dalam, luar, dan bokong untuk menopang aktivitas harian seperti duduk dan berdiri dari WC jongkok, disertai latihan koordinasi gerak.
- Grade 4: Pada tahap akhir, fisioterapis akan merujuk pasien ke dokter spesialis ortopedi untuk konsultasi tindakan operasi. Fisioterapi tetap berperan penting pascaoperasi untuk mempercepat pemulihan dan memperbaiki pola jalan.
Kunci Kesembuhan: Kepatuhan dan Gaya Hidup Sehat
Mechita menegaskan bahwa osteoarthritis merupakan kondisi kronis yang dapat dikendalikan. Kunci utama keberhasilan terapi terletak pada kepatuhan pasien dalam menjalankan latihan di rumah secara rutin dan sabar.
Latihan fisik juga harus diimbangi dengan modifikasi gaya hidup, seperti mengontrol berat badan, menjaga pola makan (terutama bagi penderita asam urat atau reumatik), serta berkonsultasi secara berkala dengan tenaga kesehatan.
